Kamis, 04 Juni 2020

FIDYAH TIDAK BOLEH DIGANTI DENGAN UANG

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ
يَقْرَأُ وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فَلَا يُطِيقُونَهُ
{ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ }
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Telah menceritakan kepadaku Ishaaq; Telah mengabarkan kepada kami Rauh; Telah menceritakan kepada kami Zakariyyaa' bin Ishaaq; Telah menceritakan kepad;a kami 'Amru bin Diinaar dari 'Athaa' dia mendengar Ibnu 'Abbaas membaca ayat :

"Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin." (QS. Al Baqarah 184).

Ibnu 'Abbaas berkata; "Ayat ini tidak dimanshukh, namun ayat ini hanya untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin."
[HR. Bukhari no. 4505]

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah

Soal :
Orang tua yang sakit-sakitan, tidak mampu berpuasa apakah sah jika ia membayar fidyah dengan sejumlah uang ?

Jawab :
Alhamdulillah

Kita harus tahu satu kaidah penting bahwa setiap lafazh ith’am (memberi makanan) atau tha’aaman (makanan) yang disebutkan Allah dalam Al Qur‘an, wajib berupa makanan.

Firman Allah Ta’ala tentang puasa :

وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itu lebih baik baginya dan puasamu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al Baqarah : 183)

Allah Ta’ala juga berfirman tentang kafarah (penebus) sumpah :

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَساكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ ذٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَٱحْفَظُوۤاْ أَيْمَاٰنَكُمْ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَـٰتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barangsiapa tidak mampu melakukannya maka berpuasalah 3 hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukumNya kepadamu agar kamu bersyukur (kepadaNya).”
(QS. Al Maidah : 89)

Dalam aturan zakat fitri, Nabi shallallahu’alaihi wasallam mewajibkan zakat fitri dikeluarkan sebanyak 1 sha' dalam bentuk bahan makanan pokok. Karena itu, semua yang disebutkan nash dengan kata tha’am atau ith’am, tidak sah jika diwujudkan dalam bentuk uang (dirham).

Untuk itu, orang tua yang memiliki kewajiban membayar fidyah sebagai ganti puasanya maka tidak sah bila dia keluarkan dalam bentuk uang (dirham). Meskipun ia mengeluarkannya senilai 10 kali lipat dari harga makanan, tetap tidak sah. Karena dia menyimpang dari perintah yang ada dalam nash.

Demikian juga pada zakat fitrah, jika dikeluarkan dalam bentuk uang meskipun nilainya 10 kali lipat dari jumlah yang diwajibkan maka tidak akan menyamai keabsahan zakat dengan 1 sha' gandum. Karena zakat dengan uang sama sekali tidak terdapat dalam nash. Padahal Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda :

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan ajaran kami maka amalannya tersebut tertolak.”

Untuk itu, kami katakan kepada saudaraku yang tidak mampu berpuasa karena usia lanjut, berilah makanan kepada satu orang miskin setiap harinya. Engkau bisa memilih satu diantara dua cara :

Pertama, engkau bisa membagi-bagikan (bahan makanan mentah) langsung ke rumah-rumah mereka. Tiap orang mendapatkan seperempat sha' beras (1 sha' = 3000 gr) disertai lauk pauk yang layak.

Kedua, engkau memasak makanan lalu mengundang orang-orang miskin yang wajib engkau beri makan. Misalkan saja jika puasa sudah terlewat 10 hari, engkau menghidangkan makan malam lalu mengundang 10 orang fakir untuk memakannya. Demikian juga untuk 10 hari kedua dan 10 hari yang ketiga. Perbuatan ini sebagaimana yang pernah dilakukan sahabat Anas bin Malik radhiallahu’anhu tatkala di usia lanjut sehingga beliau tidak mampu lagi berpuasa. Lalu beliau memberi makan 30 orang miskin di akhir bulan Ramadhan.”

[http://islamqa.info/ar/39234]

Wallahu waliyyut taufiq




Tidak ada komentar:

Posting Komentar